Menikmati kopi

Menikmati kopi
Tampilkan postingan dengan label pendidikan di indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan di indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2016

TIPS MEMBANGUN INTEGRITAS DIRI PADA ANAK




Sebagian besar orang mengatakan bahwa integritas adalah kejujuran. Sebagian lagi menyamakan dengan “etika”. Integritas juga diartikan sebagai bersatunya antara kata dan perbuatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Integritas diartikan sebagai  mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.
                Kata “integritas” berasal dari kata sifat Latin integer (utuh, lengkap) Dalam konteks ini, integritas diartikan sebagai rasa batin “keutuhan” yang berasal dari kualitas seperti kejujuran dan konsistensi karakter. Integritas adalah sebuah konsep konsistensi tindakan, nilai-nilai, metode, langkah-langkah, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas dianggap sebagai kejujuran dan kebenaran yang merupakan kata kerja atau akurasi dari tindakan seseorang. Integritas dapat dianggap sebagai kebalikan dari kemunafikan. Orang yang tidak memiliki integritas dikenali dengan cirinya kalau berkata. suka berbohong, kalau berjanji, mengingkari dan kalau diberi amanah, berkhianat.
            Stephen M.R. Covey (2010) dalam buku Speed of Trust, mengatakan bahwa integritas mencakup kejujuran, mengatakan kebenaran dan memberi kesan yang benar. Akan tetapi, setidaknya ada tiga kualitas tambahan yang sama pentingnya, kualitas tersebut adalah;

Konsistensi ; Seseorang memiliki integritas ketika tidak ada kesenjangan antara niat dan perilaku, ketika ia utuh, tak bersambung, sama-luar dalam. itu disebut sebagai konsistensi, dan konsistensi inilah yang pada akhirnya akan menciptakan kredibilitas dan kepercayaan. Sebelum saya memberikan sebuah  cerita tentang konsistensi untuk anak, saya ingin menyampaikan terlebih dahulu sebuah kisah teladan untuk kita para orang tua dan guru.
            Contoh kisah konsistensi ini saya ambil dari kisah Mahatma Gandhi. Pernah dalam kehidupannya, Gandhi diundang berbicara dihadapan House of Commons (Majelis Perwakilan Rendah) di Inggris. Tanpa menggunakan catatan, ia berbicara selama dua jam dan mengakibatkan pendengar yang pada prinsipnya tidak bersahabat itu menyambutnya dengan bertepuk tangan sambil berdiri. Setelah pidatonya, beberapa orang wartawan mendekati sekretarisnya Mahadev Desai, tidak percaya bahwa Gandhi sanggup memukau pendengarnya demikian lama tanpa catatan. Desai menjawab:
Yang Gandhi pikirkan, yang ia rasakan, yang ia ucapkan, dan yang ia lakukan semuanya sama. Ia tidak membutuhkan catatan, Anda dan saya, kita perpikir begini, merasa lain lagi, mengucapkan lain, dan melakukan lain lagi, jadi kita membutuhkan catatan dan arsip untuk melacaknya.
Gandhi bukan saja konsisten di dalam dirinya, dia juga konsisten dengan prinsip-prinsip yang ia junjung. Bukan saja ia mempunyai akar-akarnya, melainkan juga mempunyai akar utama yang tertanam dalam-dalam hingga ke waduk prinsip-prinsip abadi yang mengatur kehidupan.

Konsistensi Untuk Anak;  ada sebuah kisah teladan bagaimana agar tetap konsisten di dalam mendidik anak yang tantrum (ngamuk). Kisah yang saya kutip dari Ida S Widayanti dalam Majalah Suara Hidayatullah (September 2011). Kisahnya sebagai berikut :
            Seorang anak menangis keras menolak untuk sikat gigi sebelum tidur. Berbagai cara sudah dilakukan oleh ibunya, membujuk, memberi pengertian, dan memberi contoh. Tapi anak itu tetap menolak. Kini, ia mulai menggunakan amukan untuk menolak ‘ritual’ malam hari tersebut. Malam itu udara sangat panas, si ibu sudah sangat lelah. Secara mental, ia tidak siap menghadapi tantrum (ngamuk) anaknya itu. Makin dibujuk anak itu makin keras menangis dan tetap bersikukuh, “Mau tidur saja, tidak mau sikat gigi!”
            Lalu ibu itu menatap wajah anaknya, betapa mengenaskan. Wajah buah hatinya itu sudah terlihat lelah. Suaranya serak. Ia merasa amat kasihan, dan ingin memeluknya. Ia ingin membiarkan anak tidak sikat gigi, lalu cepat beristirahat. Dalam keadaan hampir frustasi dan nyaris ingin mengalah, ibu itu ingat tentang pentingnya konsistensi dalam mendidik anak. Ia pun teringat, sebagai orang tua jangan takut saat menerapkan konsistensi, mungkin anak akan tantrum untuk adu kekuatan.
            Ibu itu menarik nafas panjang dan hatinya menjadi sedikit ringan dan bertekad untuk tetap konsisten, namun dengan sikap tenang dan lembut, tanpa ancaman dan kemarahan. Ibu itu pun berkata, “Sayang, Ummi di sini ya menunggu Ade. Kita hanya akan tidur kalau sudah sikat gigi. Ummi sudah siapkan buku untuk kita baca sebelum tidur!” kata ibu tersebut yang sangat tahu kegemaran anaknya, yaitu dibacakan buku. Selama anak itu menangis, ia dan suaminya berdiskusi tentang arti penting konsistensi. Tujuannya mereka saling menguatkan, agar tak cepat menyerah.
            Ayah si anak itu membuka sebuah buku cerita dan membacakannya pada istrinya. Buku itu bercerita tentang buaya yang sakit gigi karena suka makan permen namun malas sikat gigi. Anak itu masih menangis tapi suaranya sudah lebih pelan. Lalu ia bilang, “Ummi aku ingin dipeluk Ummi!”
            “Ya ummi juga ingin peluk Ade. Ummi akan peluk kalau Ade akan tidur, tapi setelah sikat gigi ya!” jawab si ibu lembut. Tangisannya mereda lalu mendekat, “Ummi, aku mau sikat gigi!” katanya. Si ibu pun bernafas lega. Setelah acara bersih-bersih selesai dan ke tempat tidur, lalu ibu itu membacakan buku cerita tentang buaya yang sakit gigi karena suka makan permen namun malas sikat gigi, belum selesai buku dibaca anak itu sudah tertidur.
            Keesokan paginya, anak itu bicara sama ayahnya, “Abi, masa buaya tidak mau sikat gigi kalau mau tidur!” katanya. Tentu saja si ibu ingin tertawa mendengar ucapannya. Ia bersyukur malam itu ia bisa melewati malam itu dengan kesabaran terjaga untuk menjalankan konsistensi dalam menegakkan aturan serta membiasakan kegiatan positif.
Kisah di atas tentu kerap dialami para ibu. Godaan untuk melanggar aturan karena tidak tahan dengan amukan anak. Jika hal itu terjadi, maka selanjutnya anak akan menjadikan ‘amukan’ sebagai senjata untuk memenuhi keinginannya, menolak yang tak disukainya, dan untuk mengendalikan orang tua. Namun jika orang tua konsiten, anak akan belajar bahwa tidak ada gunanya nangis dan ngamuk, karena hanya akan membuatnya tak nyaman dan lelah. Saat anak ngamuk, orang tua bisa tetap menunjukkan rasa kasih sayang dan rasa respek pada anak. Orang tua hanya menunjukkan ketidaksetujuan pada sikap anak saja, dan selalu siap menolong anak untuk tetap konsisten pada aturan yang sudah ditetapkan.

Kerendahan hati; integritas juga mencakup kerendahan hati. Kerendahan hati diartikan sebagai sifat yang tidak sombong atau tidak angkuh. Pribadi yang rendah hati biasanya justru memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan memiliki keunikan dan keistimewaan, sehingga dia senantiasa membuat orang lain merasa penting. Karena sesungguhnya setiap pribadi adalah istimewa. Setiap orang adalah spesial, unik, dan berhak untuk dihargai. Manusia adalah pribadi yang harus diperlakukan khusus. Manusia adalah makhluk yang sangat sensitif. Jika kita meragukan hal ini, lihat diri kita sendiri dan perhatikan betapa mudahnya kita merasa disakiti atau tersinggung.
            Rendah hati pada hakekatnya bermakna kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk keangkuhan. Rendah hati akan mendorong terbentuknya sikap realistis, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, menumbuh kembangan sikap tenggang rasa, seta mewujudkan kesederhanaan, penuh rasa syukur dan ikhlas di dalam mengemban hidup ini.

Keberanian ; integritas juga mencakup keberanian untuk melakukan hal yang benar, bahkan meskipun itu berat. “Berani karena benar” slogan yang sering kita dengar.  Keberanian akan menimbulkan rasa percaya diri. Keberanian dan percaya diri dalam diri anak sedikit banyak dipengaruhi oleh pola pengasuhan orangtuanya. Kepercayaan diri yang dilatih sejak masa tumbuh kembang anak diharapkan akan melahirkan pribadi yang yakin atas dirinya, kompeten, dan menghargai dirinya secara sehat dan positif. Oleh karenanya ini menjadi tugas bagi para orang tua untuk dapat membantu mewujudkan anak menjadi pribadi yang positif tersebut.
            Orang tua sesibuk apapun hendaknya tetap memiliki waktu khusus untuk bersama dengan anaknya. Ketika anak meminta perhatian Anda, cobalah untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tinggalkan sebentar pekerjaan Anda, tatap matanya dan dengarkan ia bicara. Mengabaikannya akan membuat ia merasa tidak berharga, tidak layak untuk diperhatikan, dan ini bisa mengoyak rasa percaya dirinya. Selain perhatian dan kemauan untuk mendengarkan orang tua juga harus mampu menunjukan sikap menghargai. Biarkan anak melakukan sendiri apa yang sudah bisa ia lakukan. Janganlah terlalu over protective, biarkan anak untuk mencoba sendiri dan mengerti konsep sebab akibat dari suatu tingkah laku. Hal ini diperlukan agar anak terbiasa berfikir dan bersikap mandiri sebelum melakukan sesuatu.
            Dalam sebuah artikel yang berjudul Melatih Keberanian dan Harga Diri Anak, di web bookadvisormds.com menyatakan bahwa, Untuk menumbuhkan keberanian anak harus distimulasi sesering mungkin, salah satunya yaitu dengan memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapatnya. Untuk beberapa masalah anak dapat dilibatkan untuk dimintai pendapatnya.  Hal ini untuk melatih kepekaan dan memiliki jiwa kepemimpinan. Namun tidak semua pendapatnya harus dituruti. Apalagi jika berhubungan dengan kebutuhan orang lain.
            Biasakan anak untuk berani mencoba, bertanggung jawab dan berani mengambil resiko. Ajaklah anak untuk bersikap optimis. Apabila anak tidak bisa mengerjakan sesuatu, kondisikan anak untuk tetap berusaha dan katakan pada anak bahwa ia pasti bisa. Semua itu akan membuat ia tahu bahwa Anda percaya ia bisa dan mampu!. Berilah penghargaan kepada anak, sekecil apapun keberhasilan yang dibuatnya. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar. Apabila ia gagal dalam melakukan  sesuatu, besarkanlah hatinya, yakinkan bahwa dengan usaha dan tentu saja pertolongan dari Allah, suatu saat ia pasti bisa untuk mencapai apa yang diharapkan.








CARA BIJAK MEMBANGUN KONSEP DIRI




Anak-anak dengan konsep diri negatif memiliki sikap "tidak bisa melakukan". Maksudnya tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukan sesuatu karena mindset “tidak bisa” sudah melekat di pikirannya. Mereka menjadi lebih mudah frustrasi dan menyerah pada tugas-tugas yang sulit. Anak-anak ini mungkin menunjukkan masalah perilaku jika "nakal" atau "buruk" adalah bagian dari konsep diri mereka. Apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak-anak mereka mengembangkan konsep diri yang positif?, Feed Burner (2012), dalam artikel Membangun Konsep diri Positif, mengatakan ada 4 tindakan yang harus dilakukan orang tua;
  1. Sadar Bahasa ; Jadilah sadar bahasa untuk menggambarkan anak-anak Anda. Jangan label mereka dengan kata-kata seperti 'malas', 'nakal', 'agresif', atau 'bodoh.' Sebaliknya, mencari dan menunjukkan kekuatan anak Anda.
  2. Kesempatan untuk sukses. Berikan anak Anda sesuai dengan usianya untuk dapat menyelesaikan tugas sendiri. Setelah melakukannya akan memberinya rasa bangga dan membantu membangun mentalitas "bisa melakukan" dalam membangun konsep diri positif.
  3. Berikan Contoh tentang Kebaikan ; Ini adalah masalah pilihan bahasa. Misalnya, jika anak Anda, frustrasi, memukul anak lain, Anda mungkin berkata, "Kamu gadis nakal Bagaimana kau bisa begitu berarti! Aku tidak percaya kau memukulnya!! Anda berada dalam masalah besar!" Atau, Anda bisa mengatakan, "Kamu menjadi frustrasi dan memukulnya. Ini tidak ok untuk memukul. Aku tahu kau tidak bermaksud menyakitinya Bagaimana Anda bisa mengekspresikan frustrasi Anda dengan cara yang berbeda? Apakah Anda ingin bola stres untuk memeras.? " Mana yang menurut Anda mengarah ke positif konsep diri?
  4. Belajar dari Kegagalan; Kegagalan juga merupakan alat pembelajaran bagi anak-anak, dan orang tua tidak perlu melindungi mereka dari semua kegagalan. Bahkan, anak-anak dengan konsep diri positif yang mengalami kegagalan, mereka dapat menerima kesalahan atau kelemahan karena mereka tahu bahwa mereka kompeten.

TIPS CARA MENGENALKAN KONSEP DIRI PADA ANAK




Hidup adalah sebuah perjalanan, agar perjalanan tersebut bermakna dan mencapai tujuan seperti yang diharapkan, manusia perlu mengetahui lebih jauh siapa dirinya, potensi dan kemampuannya, dan ke mana tujuan yang akan dituju. Untuk itu setiap anak yang akan memulai perjalanan hidupnya memerlukan apa yang dinamakan konsep diri. Konsep diri (self concept) adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual.
      Konsep diri menurut Rogers (1972) adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.
Konsep-diri memiliki tiga dimensi, yaitu: Pertama, pengetahuan tentang diri, adalah informasi yang tentang diri sendiri.  Misalkan, jenis kelamin, potensi, penampilan, dan sebagainya. Kedua, pengharapan; adalah gagasan anda tentang kemungkinan menjadi apa kelak. Dan  Penilaian terhadap diri anda; yang merupakan pengukuran anda tentang keadaan anda dibandingkan dengan apa yang menurut anda dapat dan seharusnya terjadi pada diri anda.
            Hasil pengukuran tersebut adalah rasa harga diri. Konsep-diri memiliki dua kecondongan, yaitu:   Konsep-diri NEGATIF dan  Konsep-diri POSITIF.  Andrie Wongso, seorang motivator Indonesia, dalam Majalah Luar Biasa (Januari 2013) mengatakan bahwa Individu dengan konsep diri positif akan memaknai segalanya dengan nilai-nilai positif. Sedang individu dengan konsep diri negatif akan memaknai setiap pengalaman dan ujian yang didapat dalam hidup dengan cara pandang negatif. Keseimbangan dalam artian sisi positif dan negatif yang ada dalam diri setiap individu seperti kebaikan dan keburukan menjadi satu kesatuan utuh. Positif dan negatif berada berdampingan. Keduanya saling tarik-menarik dan muncul ke permukaan menjadi salah satu karakter dalam diri kita. Individu dengan konsep diri positif akan memaknai segalanya dengan nilai-nilai positif. Sedang individu dengan konsep diri negatif akan memaknai setiap pengalaman dan ujian yang didapat dalam hidup dengan cara pandang negatif. William D. Brooks dan Philip Emmer memberi lima ciri untuk orang dengan konsep diri negatif yaitu :
  1. Peka terhadap kritik; Orang dengan konsep diri negatif akan peka terhadap kritik. Adanya kritik tidak akan diterima dengan tangan terbuka tapi justru akan membuatnya naik pitam dan mudah marah. Dengan begitu orang dengan konsep diri seperti ini akan selalu menghindari dialog terbuka dan bersikeras mempertahankan pendapatnya.
  2. Responsif ;Orang dengan konsep diri negatif juga responsif sekali terhadap pujian yang diterimanya. Bisa terlihat dari antusiasmenya ketika menerima pujian.
  3. Hiperkritis; terhadap orang lain dalam artian ia selalu mengeluh, mencela, dan meremehkan siapa pun.
  4. Perasa :Merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan. Karena itu reaksi awal terhadap orang lain adalah menganggap mereka sebagai musuh.
  5. Menghindari Persaingan : Orang dengan konsep diri negatif tidak suka dengan persaingan dan menghindari sebuah kompetisi.
     Berbanding terbalik dengan konsep diri negatif adalah konsep diri positif. Ciri yang terdapat dalam konsep diri postif adalah:
1.     Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
2.      Ia merasa setara dengan orang lain.
3.      Ia menerima pujian tanpa rasa malu.
4.      Ia menyadari bahwa setiap orang punya berbagai perasaan, keinginan dan perilaku  yang seluruhnya tidak disetujui masyarakat.
5.   Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

 Semoga bermanfaat

TIPS MENUMBUHKAN HARGA DIRI ANAK




Harga diri atau self esteem adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Harga diri atau penghargaan diri merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar yang memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap proses kehidupan yang sangat penting bagi perkembangan yang normal dan sehat, penghargaan diri memiliki nilai bertahan hidup. Branden (2005) mengartikan Harga diri sebagai keyakinan dan hak kita untuk bahagia, perasaan berharga, layak, diijinkan untuk menilai kebutuhan dan keinginan kita serta menikmati buah dari kerja keras kita.
                    Bagaimana cara menumbuhkan sifat dan harga diri yang positif?, ada trik menarik yang disampaikan oleh Abla Bassat Gomma (2006), seorang Psikolog dan Motivator dari Libanon dalam buku terjemahannya berjudul Melejitkan Kepribadian Diri. Trik tersebut baik untuk dipahami bagi kita sebagai orang tua dan guru di sekolah, untuk selanjutnya diajarkan melalui contoh dan pembiasaan. 12 langkah untuk menumbuhkan sifat harga diri yang positif  tersebut adalah ;
1.      Jangan Membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain; setiap anak adalah unik, dan semua memiliki keistimewaan masing-masing. Sekolah dan orang tua kerap sekali membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain. Misalnya, peringkat atau ranking di kelas, dengan membuat peringkat artinya sekolah telah membandingkan anak yang satu dengan yang lain. Ini hanya bagus untuk anak yang berprestasi 10 besar, namun akan mencederai harga diri anak lainnya di dalam kelas tersebut. Pada sekolah yang telah menerapkan pendekatan kecerdasan majemuk (multiple intelligence), setiap anak akan dihargai dan memiliki kelebihannya masing-masing. Bila di sekolah konvensional, anak hanya dihargai prestasi akademisnya, di sekolah yang menerapkan kecerdasan majemuk, semua anak berhak juara, mulai dari juara prestasi akademis, prestasi menerapkan budaya sekolah seperti disiplin, tanggung jawab, empathy, kerja keras (effort), beretika, sabar dan yang lainnya.
2.      Jangan Merasa Rendah Diri; rasa rendah diri itu menunjukkan ketidakmampuan terhadap suatu pekerjaan dan hasrat. Sebagai orang tua dan guru di sekolah, misalkan kata kata yang terlontar, “Saya tidak mampu melakukan sesuatu, saya tidak mempunyai kemampuan untuk mencapai hasrat saya” kata-kata ini akan menjadi virus yang mematikan potensi anak-anak. Bila kita merasa tidak mampu, sebaiknya tetap menggunakan kata optimis, misalkan “ini pekerjaan berat dan saya tertantang untuk mengerjakannya, mari kita pelajari dan mencari caranya”.
3.      Terimalah setiap saran yang ditujukan kepada Anda dengan mengatakan ‘terima kasih’; jika Anda menolak setiap saran orang dengan mengatakan “Ah, nasehat ini sama sekali tidak berarti bagiku”, Maka Anda seolah-olah menujukkan bahwa diri Anda bukan seorang yang layak untuk dinasehati, jika ada yang memberi saran kepada Anda, katakana saja ‘terima kasih’. Cara ini juga harus ditumbuhkan kepada diri anak, menolak saran orang lain akan terkesan menjadi orang sombong, dan akan dijauhi dalam pergaulan. Kita boleh saja menerima saran dari siapapun, keputusan menggunakan saran atau tidak, tetap kepada diri kita masing-masing.
4.      Gunakan kalimat Motivasi; cobalah ulangi kata-kata berikut, “Saya Bisa…!, saya mampu …!” ungkapkan kata-kata ini berulang-ulang terutama sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Ungkapkan kata-kata ini dengan penuh perasaan dan dekatkanlah diri kita kepada Allah, Tuhan yang Maha Mengabulkan doa dan usaha hambaNya.
5.      Manfaatkan Potensi Anda untuk menemukan harga diri; Membaca buku yang bermanfaat, mendengar ceramah-ceramah, dan kisah orang sukses dan tontonan yang positif dapat menumbuhkan perasaan harga diri. Sebaliknya tayangan tentang kegagalan, dan perilaku tidak mendidik akan menurunkan harga diri.
6.      Bergaul dengan Orang orang yang baik; ketika kita bergantung kepada orang-orang yang tidak berakhlak, mereka akan berusaha untuk terus mengkritik segala yang Anda lakukan atau ucapkan. Untuk itu sebagai orang tua, kita harus sangat peduli terhadap pergaulan anak-anak kita, salah bergaul dapat berakibat fatal terhadap harga diri dan masa depan anak.
7.      Tulis Perkara-perkara yang menjadikan Anda berhasil;  hendaknya perkara-perkara yang Anda tulis tidak hanya mengenai hal-hal yang menyebabkan Anda menjadi sukses seketika, tapi juga hal-hal yang sederhana seperti; kemampuan merapikan barang, membaca buku, berprestasi, merealisaikan tujuan dan lain-lain. Baca tulisan Anda berulang-ulang, dan ketika Anda membaca, cobalah persiapkan ungkapan perasaan gembira ketika Anda menemui kesuksesan nanti. Mari kita coba resep ini bersama anak kita.
8.      Tulislah Sifat-sifat Baik yang ada Pada Diri Anda; apakah Anda orang yang jujur, tidak egois, selalu membantu orang lain?. Cobalah paling sedikit 10 sifat yang Anda dan anak anda miliki dan baca tulisan itu berulang-ulang. Sebagian orang mengungkapkan hal-hal yang tidak baik pada dirinya dan mereka merasa heran mengapa hidup mereka tidak berjalan sebagaimana wajarnya. Mulailah dari sekarang untuk memfokuskan diri kepada sifat-sifat yang baik untuk memberi kesempatan kepada diri Anda mencapai segala objek dan tujuan yang diinginkan.
9.      Mulailah dengan ber-infaq; kita tidak membicarakan tentang infaq materi, tapi yang dimaksud infaq kepada diri sendiri. Bergaulah kepada orang lain dan bantu mereka. Jangan sekali-kali membandingkan diri anda dengan orang lain. Manfaatkan potensi Anda dengan baik yang merupakan pemberian Allah sebagai bukti cinta-Nya kepada Anda. Jangan membebani diri di luar kemampuan yang kita miliki.
10.  Lakukan Aktivitas yang Disukai; bila Anda setiap hari melakukan aktivitas yang tidak disukai, maka akan sangat sukar bagi Anda untuk menumbuhkan perasaan yang baik terhadap diri sendiri. Cobalah lakukan aktivitas yang Anda sukai.
11.  Jujurlah terhdap diri sendiri; jangan melakukan pekerjaan yang disukai orang lain, sedangkan diri Anda sendiri tidak menyukainya. Anda tidak akan merasa terhormat terhadap diri Anda sendiri, jika tidak mengendalikan kehidupan yang Anda ridhai.
12.  Teruslah bersikap proaktif; anda tidak akan merasa mempunyai hargai diri, jika anda terus duduk dan menjauhi setiap tantangan. Jika Anda tidak mau bekerja karena rasa takut dan khawatir maka Anda akan merasa rendah diri dan tidak bahagia. Dan kehancuran harga diri anda sudah pasti diambang pintu. Cobalah bersikap proaktif dengan tidak memikirkan apakah Anda akan berhasil atau tidak dengan kegiatan Anda, niscaya Anda akan merasa tenang.

Demikian tips menumbuhkan harga diri anak ini, semoga bermanfaat

FAKTOR FAKTOR YANG DAPAT MENCEDERAI HARGA DIRI ANAK



Iqbal murid kelas 3 SD itu baru berusia 9 tahun, melihat dari wajah, kulitnya yang bersih dan penampilannya,, dia bisa digolongkan anak dari orang tua yang ekonominya cukup baik. Sekolahnya saja di sekolah swasta favorite yang berbayar mahal dan setiap hari diantar jemput dengan menggunakan kendaraan roda empat. Namun, dalam keseharian Iqbal sering sekali murung, dari matanya terlihat seperti ada beban berat yang dipikulnya.
            Ibu Weni Suryandari yang biasa dipanggil Bu Weni adalah guru walikelas SD kelas 3 dimana Iqbal menjadi murid perwaliannya. Bu Weni adalah guru yang sangat perhatian terhadap perkembangan belajar dan perilaku murid-muridnya. Melihat arsip nilai dan catatan perilaku, Ia melihat ada yang janggal dari nilai hasil ulangan yang diperoleh Iqbal. Untuk beberapa mata pelajaran yang membutuhkan nalar, ia mendapat nilai selalu di bawah angka 4, sangat jauh dari seluruh teman-temannya yang rata-rata mendapat nilai 7.
            Untuk mendapat informasi tentang kondisi belajar Iqbal di rumah, Bu Weni mengundang Orangtuanya Iqbal untuk datang ke Sekolah. Pada kesempatan berbincang-bincang dengan Ibunya Iqbal (Bundanya Iqbal), Bu Weni menyampaikan hasil belajar Iqbal yang jauh di bawah rata-rata nilai temannya, mendapatkan kenyataan itu bundanya Iqbal terlihat sangat kecewa, dan mengatakan, “padahal Iqbal sudah ikut les matematika kumon dan bahasa inggris”, ujarnya.
            Iqbal segera memasuki ruang tempat guru dan orang tuanya bertemu dan duduk disamping ibunya, Ibunya segera menyampaikan kekecewaannya dengan mengatakan, “Iqbaal, kan sudah ikut lest kumon dan bahasa inggris, kenapa nilaimu masih jelek?” lalu, menyampaikan keluhannya bahwa Iqbal sulit sekali kalau disuruh belajar, daya tangkapnya kurang dan lain-lain. Agar tidak semakin dipermalukan, Bu Guru Weni meminta Iqbal untuk bermain di luar.
            Sesaat kemudian, masuk seorang gadis cilik mendekat ke Bundanya Iqbal lalu menggelendot, gadis cilik tersebut kemudian diketahui bernama Salsabila, ia adalah adiknya Iqbal. Kepada Bu Guru Weni, Bundanya Iqbal memuji muji perilaku Salsabila sebagai anak yang rajin, pintar dan penurut. Nilai-nilainya di sekolah pun bagus-bagus, tidak seperti Iqbal yang malas belajar, dan selalu mendapat nilai buruk.
            Dengan mendapat informasi dan perilaku orang tua terhadap anaknya, Bu Guru Weni, segera menyimpulkan bahwa harga diri Iqbal telah dicederai oleh orang tuanya sendiri, hasil belajar dan perilaku kesehariannya dicemooh dan dibanding-bandingkan dengan adiknya, ini yang membuat Iqbal sering murung dan merasa tidak percaya diri. Selanjutnya, Bu Guru Weni mengharapkan Bundanya Iqbal untuk tidak melakukan perbuatan yang mencederai harga diri anaknya dan memberi dorongan dan pujian bila ia berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan menumbuhkan rasa percaya diri, harga diri anak akan kembali pulih, kata Bu Guru Weni dengan bijak.
            Pada akhir tahun saat kenaikan kelas, perilaku Iqbal sudah jauh berubah, dia sudah berani menatap lawan bicaranya, lebih riang, dan prestasinya jauh meningkat dibanding sebelum peristiwa bundanya datang ke sekolah.
(Sumber : Diadopsi dari pengalaman Weni Suryandari (2013), Buku Hope and Dream, Memoar Guru ).
***
Apa yang dialami Iqbal tersebut adalah hal yang banyak terjadi di banyak anak-anak yang dilakukan orangtuanya sendiri. Tindakan membanding-bandingkan anak dengan orang lain, meremehkan kemampuan anak, dan mencemooh, secara tidak sadar akan membuat anak tidak percaya diri dan meruntuhkan harga diri anak. 

Secara detail Nathaniel Branden (2005) menyampaikan sikap yang menyebabkan harga diri anak tercederai, adalah;
  • Menyampaikan bahwa si anak tidak “cukup memadai”
  • Menghukum si anak karena mengungkapkan perasaan perasaan yang “tidak dapat diterima”
  • Mengolok-olok atau mempermalukan anak
  • Menyampaikan bahwa pemikiran atau perasaan si anak tidak berharga atau tidak penting
  • Berusaha mengendalikan anak dengan perasaan malu atau bersalah
  • Terlalu melindungi anak sehingga akibatnya menghambat pembelajaran yang normal dan meningkatkan pengandalan diri
  • Membesarkan anak tanpa aturan sama sekali, dan dengan demikian tidak ada struktur pendukung, atau jika tidak peraturan-peraturan yang kontradiktif, membingungkan, tidak dapat didiskusikan dan menekan serta menghambat pertumbuhan yang normal.
  • Menyangkal persepsi anak tentang kenyataan dan secara implicit mendorong anak untuk meragukan pemikirannya.
  • Memperlakukan fakta-fakta yang jelas sebagai sesuatu yang tidak nyata, dengan demikian mengguncang perasaaan rasionalitas anak.
  • Meneror anak dengan kekerasan fisik atau ancaman, dengan demikian menanamkan perasaan takut yang akut sebagai karakteristik yang terus ada dalam diri si anak.
  • Mengajarkan bahwa anak itu tidak baik, tidak berharga, atau berdosa karena kodratnya.
           
            Jacinta F.Rini seorang Psikolog dalam e-psikologi.com mengatakan bahwa Level  dan kestabilan Self-Esteem (SE) pada anak berusia 11 - 12 tahun ternyata memiliki korelasi yang kuat dengan hasil persepsi mereka terhadap berbagai aspek yang terkait dalam hubungan komunikasi orangtua - anak. Demikian hasil penelitian yang dilakukan Anita Brown, dkk dari University of Georgia.  Dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki Self-esteem yang stabil, anak-anak dengan SE yang tidak stabil melaporkan bahwa orangtua mereka ternyata suka mengkritik, mengontrol secara berlebihan, dan kurang menghargai perilaku-perilaku positif yang dilakukan oleh anaknya. Sementara itu, anak-anak dengan Self-Esteem rendah melaporkan bahwa orangtua mereka lebih banyak mengkritik, mengawasi dengan ketat dan kurang menghargai perilaku-perilaku positif yang dilakukan anaknya dalam rentang waktu yang cukup lama  dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki Self-Esteem tinggi. Sementara itu, ayah (orangtua) dari anak-anak yang memiliki Self Esteem tinggi dianggap memiliki kemampuan khusus dalam memecahkan masalah atau persoalan hidup.

TIPS MENCIPTAKAN RASA SENANG DI SEKOLAH



Mengawali suatu pekerjaan  dengan hati senang dan membuat orang lain senang adalah suatu keberkahan tersendiri. Betapa tidak?. Dengan hiruk pikuknya dan macetnya kendaraan di jalan, dan suasana yang seringkali membuat kita jengkel, dan kita berhasil mengubahnya menjadi senyuman, menyapa anak-anak yang hadir duluan, dan menyalami mereka dengan suasana hati yang sumringah, tentu saja ini akan membuat suasana hati murid kita menjadi senang dan berkahnya sepanjang hari suasana hati kitapun  menjadi menyenangkan.
            Berikut ini adalah tips sederhana  cukup efektif untuk menciptakan perasaan senang di sekolah, yaitu :

·        Datang  lebih awal
Mengatur suasana hati dimulai dengan kehadiran di sekolah, bila guru atau karyawan terlambat datang ke kantor, akan menimbulkan perasaan terburu buru, sungkan dengan pimpinan dan orang tua murid yang mengantar anaknya ke sekolah. Dengan terlambat datang ke sekolah ada saja yang bisa terabaikan seperti tegur sapa, mengucapkan salam, tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya, dan perasaan ini bisa terus mengganjal dan  mengurangi rasa ceria. Datang lebih awal, misalnya 15 menit sebelum jadwal yang ditentukan, akan membuat guru punya kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar sekolah.

·         Diawali dengan Niat
Mengawali suatu kegiatan  dengan niat yang baik dan sebaik baiknya niat adalah niat untuk beribadah kepada Allah. Menghadirkan Allah dalam pekerjaan akan membuat hati kita tenang, tentram dan sekuat mungkin akan memberikan yang terbaik.

·         Menyambut Kehadiran Murid
Menyambut kehadiran murid dengan menyalaminya satu persatu, dilakukan dengan hati yang tulus, ramah dan hangat disertai dengan senyuman atau dengan menepuk pundak, akan memberikan efek yang luar biasa untuk menyiapkan pikiran dan perasaan murid saat mengikuti pelajaran.

·         Menyapa Murid dan Memberi Salam
Menyapa murid dengan menggunakan nama mereka masing-masing, mengucapkan salam, menanyakan kabar dan memberi semangat akan sangat menyentuh hati secara personal. Murid akan merasa diperhatikan dan dihargai.

·         Catatan Perkembangan Pribadi Murid
Pekerjaan ini memang memerlukan waktu tambahan, namun bila dapat melakukannya hasilnya sangat luar biasa. Dalam catatan perkembangan murid tidak hanya mengenai nama, tempat tanggal lahir dan nama orangtua, guru perlu mencatat apa apa yang disukai dan tidak disukai murid, nama sahabat karib, hobi, makanan kesukaan, prestasi apa saja yang berarti bagi diri murid tersebut.

·         Memberi Semangat
Guru bisa membuat poster yang menarik untuk menyemangati murid-muridnya. Misalnya “Selamat datang di Kelas Anak Anak Hebat, Senang Bertemu kalian pagi ini” atau kata kata lain berbunyi :”Terima kasih atas kehadiran dan semangat belajar kalian, Kalian semua Hebat!”. Guru bisa memilih kata-kata sesuai dengan kondisi sekolah Anda.

·         Umpan Balik dari Murid
Tidak semua anak berani untuk bertanya kepada guru. Untuk mengetahui apakah materi pelajaran yang disampaikan guru dapat dipahami atau tidak dipahami murid. Guru perlu membuat cara agar umpan balik segera diketahui.
Misalnya murid murid dibagi 3 buah kartu atau kertas berwarna,
Merah  = Saya tidak mengerti
Kuning = Saya minta dijelaskan lagi
Hijau    = Saya mengerti

Demikian tips sederhana ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca yang melaksanakannya, dan bagi yang berkesempatan membagi tips ini kepada teman dan sahabat yang membutuhkannya.
Salam Ramah Anak....




ARTIKEL PENDIDIKAN: MARAKNYA CORAT CORET FASILITAS SEKOLAH


Sekolah yang mengabaikan kebersihan kerap mendapat respons negative atau ketidakpuasan dari peserta didik, orang tua murid dan masyarakat. Ketidak puasan tersebut bila sudah kronis dilontarkan melalui corat coret tembok sekolah, terutama di toilet. “Jadi kalau ada corat coret di dinding atau di toilet, ada indikasi ketidak puasan terhadap kebijakan atau pelayanan di lembaga tersebut” kata seorang psikolog Almarhum Sartono Mukadis
       Untuk anak-anak sekolah boleh jadi tindakan corat coret yang dilakukan hanya karena iseng, kesal sama seseorang, namun tindakan tersebut menunjukkan rendahnya disiplin murid dan longgarnya peraturan dan konsekuensi di sekolah.
          Corat coret merupakan tindakan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat ulah atau sekedar mencari perhatian atau sensasi. Para geng remaja biasanya untuk menunjukkan jadi dirinya          
          Untuk itu pihak sekolah harus segara menindak sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan muridnya, dengan pembiaran membuat kondisi buruk akan berkembang biak secara cepat. Bila sekolah menerapkan bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, dan dinding sekolah selalu bersih dan terawat maka tindakan konyol seperti itu harusnya tidak terjadi
Hal lain yang sebaiknya dilakukan pihak sekolah adalah memperbaiki pelayanan dan perhatian kepada anak didik, corat coret yang dilakukan siswa adalah suatu tindakan protes dan ketidakpuasan yang ditujukan kepada pihak sekolah. sekolah perlu mencari akar masalah mengapa tindakan tersebut terjadi dan mencari solusi yang memuaskan keduabelahpihak

ARTIKEL PENDIDIKAN : CIRI CIRI SEKOLAH ABAI ANAK ADALAH LINGKUNGAN SEKOLAH YANG KOTOR DAN JOROK




Salah satu ciri sekolah yang mengabaikan hak anak adalah sekolah yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolahnya. Mari kita lihat bagaimana gambaran kondisi toilet  sekolah sekolah di Indonesia?. Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia,  mengatakan di Harian Republika (9/12/2014) bahwa Kondisi toilet sekolah di Indonesia secara umum masih jauh dari ideal. Gambaran yang sama tampak dominan pula di Ibu Kota. "90 persen sekolah tidak mempunyai toilet yang layak," katanya.
       Buat saya berita ini mengagetkan sekaligus memprihatinkan, ketika menulis buku ini saya menganggap  DKI Jakarta akan menjadi model sekolah ramah Anak, karena banyak sekolah sekolah yang saya kunjungi layak untuk mendapat predikat seperti itu. Namun tampaknya saya salah, mungkin sekolah yang saya kunjungi adalah 10 persen sekolah layak anak, sementara 90 persen sekolah lain menunjukkan kondisi yang berbeda.
       Bila di DKI Jakarta saja kondisinya  seperti itu, lalu bagaimana kondisi toilet sekolah di propinsi yang jauh dari ibu kota Negara?. Berikut kondisi toilet yang  memprihatinkan Saya kutip dari dari seorang siswa di propinsi Banten yang bertetangga dengan DKI Jakarta. Mari kita simak,tulisan seorang siswa SMA di Banten yang disampaikan melalui surat terbuka di redaksi majalah dinding sekolahnya.

        Fasilitas di Toilet Siswa yang Kotor dan Jorok

Toilet merupakan salah satu fasilitas yang pasti dan harus dimiliki oleh setiap sekolah. Banyak sekali fasilitas yang kurang memadai di toilet sekolah kita ini, diantaranya adalah seperti kekurangan lampu, jumlah gayung yang tidak mencukupi, air yang tidak lancar sehingga menyebabkan toilet kita berbau menyengat, ditambah lagi bak air yang sangat kotor, penuh dengan lumut dan lumpur. Kondisi ini seringkali memaksa para siswa harus mengurungkan niat untuk menunaikan hajatnya, termasuk saya.
Oleh sebab karena itu, kami berharap pihak sekolah dapat mengerti dan memahami kondisi ini, serta menjaga fasilitas dan kebersihan toilet siswa, sebelum jatuh korban sakit pada siswa akibat menahan buang air dan kotornya kamar mandi serta jentik nyamuk yang berkembang pesat.  (Tri Julianto, kelas X SMA di Banten )

KELUHAN WARGA SEKOLAH DAN ORANG TUA TENTANG TOILET
       Tulisan Tri Julianto di atas tidak hanya mewakili teman  di SMA tersebut, tapi mewakili jutaan anak Indonesia yang harus menahan hajat buang air di Toilet Sekolah. Sebuah  Komunitas Gerakan Toilet Higienis” melalui media sosial facebook menampung keluhan orang tua, anak dan guru terhadap kondisi Toilet di Sekolah, berikut saya kutip 8 keluhan dari ratusan keluhan orang tua murid, murid, dan guru yang prihatin terhadap kondisi toilet di sekolah :
·      Toilet sekolah anak saya tidak hanya kotor, pengap dan bau, tapi juga gelap, mengambil air harus menggunakan timba yang besar, saya jadi sering khawatir. Anak saya yang masih kelas 2 SD dan waktu anak saya kelas 1 SD sampai beberapa kali pup di celana karena tidak berani ke toilet sekolah (Atun Tralala, Orang tua Murid)
·      Toilet sekolah sangat kotor dan bau, baunya itu tembus sampai ke kelas sehingga banyak anak anak yang terganggu konsentrasi belajarnya (Novelia Ramadhani Rahman)
·      Toilet sekolah terkadang suka bikin anak pengen muntah, bikin anakku menahan buang air kecil akibatnya banyak yang tak tahan dan kencing di sembarang tempat (Sri Mulyani, Orang tua Murid)
·      Toilet sekolah yang kotor membuat anak saya malas sarapan pagi karena takut pengen BAB saat di sekolah ( Susi Marwan, Orang tua Murid)
·      Toilet sekolah yang kotor buat gw nahan buang air…kadang sampe pinggang gw sakit (Aliaa Fitri, Murid)
·      Males juga ceritanya, sudah sering cerita di sini, kapan mau bantu sekolah yang saya usulkan, kami tunggu tunggu koq gak ada balasannya. SDN Sindangsari 3 sangat membutuhkan bantuannya, agar siswanya sehat tidak nahan nahan buang air kecil/besar, KASIHAN. (Neng Jovancha Adelia, Orang tua Murid)
·      Kalau sekolah tempat saya mengajar bukan kotor lagi tapi tidak ada airnya. Jadi kalau murid ingin BAB ya harus pulang ke rumah masing masing, mengkhawatirkan ya…Kasihan penjaga sekolah tiap hari beliau mengangkut air berember ember dari rumah warga ke sekolah. Please kepada warga sekitar sekolah jangan suka mencuri jetpump sekolahan, kasihan murid murid. (Puri Enung, Guru)
·      Tiap tahun minta biaya uang gedung sama calon murid tapi bertahun tahun toiletnya kotor dan bau gak diurus, itu uang lari kemana…? (Adiesty Eza, Orangtua Murid)

          Sekolah Abai Anak diisi oleh personil yang pasif, tidak peduli dan masa bodo. Mereka abai terhadap lingkungan kotor sekolahnya, sebagian besar tidak berdaya dan menyerah dengan terbatasnya fasilitas, namun banyak diantara sekolah yang tidak memiliki habits atau budaya bersih. Tak pelak kalau Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, ketika mengunjungi sekolah di Tangerang, Banten, Sangat geram melihat fasiltas toilet yang kotor dan tidak terawat. Beliau perintahkan kepala sekolah, guru dan murid murid piket setiap hari membersihkan. Anies mengajak semua warga sekolah harus peduli terhadap kebersihan di lingkungan sekolahnya.